Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam III
Lamongan, 20 Mei 2015
Oleh : Maskur
NIM :13201495
Prodi :Matematika
Fakultas :MIPA
Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Jawa
Timur
ANALISA PREDIKSI NABI MUHAMMAD SAW
TENTANG ULAMA DI AKHIR ZAMAN
Nabi
Muhammad Saw dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah
atau tanggal 20 April tahun 571 Masehi. Pada bulan Rabiul Awal, kelahiran Nabi Muhammad
Saw yang kemudian membawa pengaruh besar bagi seluruh peradaban di dunia.
Seorang
bayi yang lahir dari bangsa Arab ini, yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad.
Terpuji di bumi dan tersanjung di langit. Kelahiran Nabi inilah yang sering
diperingati umat Islam seperti sekarang ini. Nabi Muhammad SAW diutus Allah
untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia tatkala manusia sebagai makhluk
beradab berada di ambang kehancuran.
Sungguh,
kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana
firman Allah “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya 107). Selain sebagai ekspresi rasa syukur
atas kelahiran Rasulullah SAW, ada substansi dari peringatan maulid Nabi, yakni
mengukuhkan komitmen loyalitas kepada beliau.
Pertama.
Meneguhkan
kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin (Islam), kecintaan
terhadap Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari
keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya,
melebihi kecintaan kepada anak dan istri, harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya
terhadap dirinya sendiri.
Rasulullah
SAW bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku
lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya” (HR. Bukhari).
Kedua.
Meneladani
perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam setiap gerak kehidupan kita.
Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab 21).
Mari
kita tanamkan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil
hingga paling besar, mulai dari kehidupan duniawihingga urusan akhirat.
Tanamkan juga keteladanan rasul pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah
sebelum tidur misalnya. Sehinggaanak-anak kita tidak menjadi pemuja dan
pengidola figur publik berakhlak rusak yang ditonton atau dilihat melalui
media-media yang canggih di zaman sekarang ini.
Ketiga.
Melestarikan
ajaran dan misi perjuangan Rasulullah dan juga para Nabi. Sesaat sebelum
menghembuskan nafas terakhir, Rasulullah SAW meninggalkan pesan pada umat yang
teramat dicintainya ini. Beliau bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal,
kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya
Shallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).
Rasulullah
SAW juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para
Ulama dari masa ke masa. Mereka, para Ulama adalah pewaris para Nabi.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para
Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu.
Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna” (HR. Abu
Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Sebagai
umat Islam, selayaknyalah kita menyerahkan kepatuhan dan loyalitas kepada para
Ulama sebab Ulama pewaris Rasulullah SAW dan pelanjut misi beliau. Kepatuhan
dan loyalitas tiada lain merupakan wujud ketaatan pada Allah Swt dan rasul-Nya.
Namun, kita layak prihatin, karena kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini,
Ulama kurang mendapat tempat di mata umat.
Bukan
saja diacuhkan, Ulama bahkan mulai mendapat hujatan dan hinaan di sana-sini.
Naudzu billah min dzalik. Fenomena ini menjadi salah satu pertanda akhir zaman
sebagaimana diprediksikan Rasulullah SAW dalam kitab Nashoihul ‘Ibad. Di sana
dituliskan sebuah hadis yang memberikan gambaran tentang hal ini.
Akan
datang suatu zaman atas umat-ku (Rasulullah Saw), mereka lari (menjauh) dari Ulama
dan Fuqaha, maka Allah SWT pun menimpakan tiga bentuk cobaan. Pertama, Allah
akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan
menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim. Ketiga, mereka akan
keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman”.
Sebagaimana
diperingatkan dalam hadis ini, ada tiga konsekuensi yang harus diterima umat
jika mereka menjauhi para Ulama.
Pertama,Allah
akan menghilangkan barakah (kenikmatan) dani penghasilan mereka. Bisa jadi,
fenomena dewasa ini, krisis ekonomi yangberkepanjangan adalah salah satu di
antara imbas dari sikap menjauhi para Ulama.
Mungkin,
seseorang memiliki pekerjaan, berpenghasilan, akan tetapi ia jauh dari perasaan
cukup, qanaah, dan rasa syukur. Padahal, masih banyak yang bernasib lebih buruk
dan tragis darinya. Hingga yang muncul adalah perasaan egois, memikirkan
kesejahteraan diri pribadi tanpa bersedia melihat dan meringankan penderitaan
orang lain di sekitarnya (kasus-kasus korupsi merajalela Negeri ini).
Kedua,
bahwa Allah SWT akan menguasakan umat ini di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim,
apakah akibat ini telah menimpa kita? Yang jelas, krisis politik dan krisis
kepercayaan terhadap para pemimpin negeri ini selayaknya menjadi bahan
renungan. Sebab kenyataannya, banyak konflik horisontal yang sering melanda
bangsa ini bermula persoalan sepele.
Ketiga,
meninggalkan dunia fana tanpa membawa iman, naudzu billah min dzalik. Inilah
akibat paling fatal yang harus dikhawatirkan.Selanjutnya, ada beberapa bentuk
tindakan menjauhkan diri dari Ulama. Kebencian, penghinaan hingga hujatan
adalah bentuk terburuk. Ibnu Hajar al-Haytami melalui karyanya Az-Zawajir
menggolongkan sikap penghinaan sebagai dosa besar.
Dinukilkan
dari hadis yang memperkuat pendapatnya ini, rasulullah bersabda: “Tiga golongan
ini tidak akan diremehkan kecuali oleh orang munafik, yakni orang tua yang
telah lama memeluk Islam, orang yang berilmu (ulama) dan pemimpin yang adil”
(HR. Thabrani). Bentuk lain dari menjauhi ulama adalah keengganan memperdalam
pengetahuan Agama.
Hal
ini sama juga dengan acuh terhadap keberadaan umat Islam. Ulama adalah pilar
pokok tegaknya Agama, di samping pilar lainnya. Jika dari masa ke masa, satu
per satu Ulama wafat, sementara penggantinya belum muncul, bukan tidak mungkin,
suatu saat nanti tak ada seorangpun di antara umat Islam yang tahu tentang
kewajiban dan larangan dalam Agama.
Hingga
pada akhirnya, umat mendaulat seorang yang awam akan pengetahuan Agama. Dia
akan berfatwa tanpa berdasar pengetahuan, sesat dan menyesatkan. Persis seperti
makna dan tafsiran hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim
berikut ini:
“Sesungguhnya
Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari diri seorang manusia, akan tetapi
dengan mencabut nyawa ulama. Hingga saat tidak tersisa seorang ulama pun,
manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya, dia ditanyai, lalu
berfatwa tanpa berdasar ilmu, dia sendiri sesat lagi menyesatkan” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Salah
satu solusi pemecahan krisis multidimensi bangsa ini adalah kembali kepada
ajaran tauhid dan syariat. Kembali kepada Ulama pewaris Rasulullah Saw, para Ulama
pengamal ilmu, dan pengabdi umat. Kita lestarikan misi dan ajaran mereka
melalui regenerasi dan kancah tafaqquh fid din yang mereka asuh. Semoga, krisis
yang menimpa bangsa ini segera menemukan titik akhir yang baik, amiin Allahumma
amiin.
Wallahu
a’lam.
Pustaka: M. Santoso, S.E, Th.
2004. Renungan Maulid (Meninggalkan
Ulama’ Tanda Akhir Zaman). Batam: Sek. MUI Batam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar